Doa

Di reuni kemarin terselip satu (-satunya) pertanyaan dari Mas Ali Farghani yang baru saya kenal, “Apa yang menguatkan tim Anda dalam berkompetisi selama #TheExtremeJourney Across Indonesia dan Asia?”

Pertanyaan yang tidak sulit, tetapi sukar untuk diperpendek karena begitu banyak variabel yang membuat cerita ini menjadi lebih terasa. Selama Across Indonesia kami rasa tidak ada konflik yang berarti. Gesekan dan amarah mulai terasa saat kesulitan bahasa dan krisis kepercayaan diri melanda di Across Asia. Dan disinilah dimulai keajaiban, atau miracle.

Perjalanan kedua kami yang dimulai dari Vietnam bisa dibilang kaku dan tidak fokus. Marah yang selama ini selalu tersimpan oleh saya dan Bang Eko menjadi terluapkan saat Rikki mengambil keputusan sendiri tanpa mengikuti pertimbangan tim. Rikki saat itu tidak membantu saya dalam mencari rute, membuat saya panik dan salah merencanakan rute perjalanan dari Van Long ke desa Black Monk di Sapa, dimana kami seharusnya mengambil bus langsung ke tujuan, tetapi saya malah membawa tim ke Hanoi terlebih dulu dan mengambil kereta esok paginya. Kegagalan dan kekalahan terus menerus menimpa tim kami selama melewati kompetisi di Across Asia etape 1.

Kondisi panas dan kering menemani perjalanan 12 jam melintasi Vietnam yang keretanya bertempat duduk kayu. Uang yang sangat pas-pasan membuat Rikki saat itu nekat minum air keran dari kereta, sedangkan kami bertiga memilih untuk berbagi air mineral yang terbatas. Bang Ibe sudah mulai setengah tidak sadar karena dehidrasi dan yang terpikir oleh saya saat itu adalah menyelamatkan diri kami dan pasrah dengan tantangan yang kami lewatkan dalam satu hari itu. Sesampainya di stasiun, kami langsung berlari menuju warung dan berbagi lagi seliter air mineral, lalu mencari kendaraan terakhir untuk ke Sapa sebelum ke Black Monk.

Berusaha pulih dari perjalanan yang membuat kami lelah karena kekurangan air, hujan yang cukup deras turun menyelimuti sesampainya kami di desa Black Monk malam itu. Setelah kami memasak pisang bakar ala Indonesia untuk tuan rumah, kami bertiga pamit untuk tidur dan mengobrol sebentar.

Saat itulah kami bertiga saling meminta maaf karena bertindak dengan emosi diri masing-masing, dan kami harus bergerak dan berpikir mengedepankan kepentingan tim dan kompetisi. Bang Ibe selaku kameramen pun menyadarkan kami bahwa ada yang hilang selama lima hari perjalanan ini, yaitu kami lupa untuk berdoa bersama.

Diam saya dalam gelap, teringat satu bulan yang lalu saat kami yang saat itu belum saling kenal dan masih diam, mengawali perjalanan dari Nusa Dua dengan berdoa bersama dan setiap doa pasti kami akhiri dengan berteriak “X9! Across Asia!” Rame (dan alay) sih hahahah, tapi percaya atau tidak, justru itu yang menjadi obat kuat untuk melaju terus. Walaupun lelah, kami terus teringat tujuan kami melakukan perjalanan melintasi timur Indonesia selama 10 hari berkat kalimat tersebut.  Dan tahukah, berkat doa dan dukungan teman-teman pula kami berhak maju ke Asia dan bertanding dengan dua tim dari regional lainnya.

Perjalanan setelah itu masih diliputi ketidakberuntungan, apalagi dalam mendapatkan tumpangan gratis dari penduduk sekitar, bisa dikata kami cupu sekali dibandingkan dua tim lainnya. Highlight ketidakberuntungan lainnya adalah kami harus berjalan sejauh 6 km dari border Vietnam ke Laos hahahah. Tetapi pergerakan kami menjadi lebih tenang dan mengalir karena dua rekan saya mengingatkan saya untuk tidak panik, dan selalu menyemangati masing-masing apalagi saat tantangan bersepeda 240 km selama dua hari di Laos.

Keajaiban doa lebih terasa saat hal yang buruk menimpa, dan membuat kita mensyukuri betapa besar karunia yang diberikan setelah doa dipanjatkan. Kita sering meminta orang lain untuk mendoakan, tetapi sudahkah kamu berdoa untukmu sendiri? Lebih lagi, sudahkah kamu berdoa untuk dipertemukan kembali dengan orang yang selalu menyelipkan namamu di doanya?

image

* Tulisan ini repost dari blog satunya lagi farahull.tumblr.com :’)

One thought on “Doa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s