India vs. Indonesia (Zanskar vs. Citarik)

Mendengar berita tentang orang yang hanyut saat rafting dan sebagainya, duh mau ga mau jadi deg-degan. Seumur-umur rafting (padahal baru lima kali rafting dalam lima bulan :P), belum pernah kejadian hanyut super jauh dan tak tertolong oleh river guide). Salah satu mitos rafting yang dulu saya yakini juga adalah: “Rafting hanya untuk atlet arung jeram yang berpengalaman.” Mitos ini menjadi terpatahkan saat saya mencoba rafting di dua negara yang berbeda dan dengan guide yang berbeda gaya pula.

Rafting pertama saya adalah di sungai Zanskar, Ladakh, India, dengan jeram grade 4. Dalam hati, “Gilak! Pertama kali rafting dikasihnya jeram grade 4 pulak!” Sungainya begitu besar dengan lanskap pegunungan Himalaya di kanan kiri. Airnya cukup dingin plus angin kencang akan menemani kami bermain di Adventure Playground ini, dan kami langsung berganti dengan baju selam soft-shell yang sudah disediakan operator.

Sungai Zanskar, India
Ilustrasi : Sungai Zanskar, India

River guide kami yang dipanggil dengan nama Tarzan, dengan bahasa Inggris cukup jelas tanpa dibumbui aksen India, menjelaskan peraturan rafting selama 15 menit dengan cukup galak. Satu perahu besar diisi oleh delapan orang dengan Tarzan di belakang sebagai river guide. Ada satu perahu lain yang berangkat bersama kami, serta di depan ada river rescue menggunakan kayak. Wait, delapan orang dalam satu perahu? Ooh, ternyata perahu ini seperti di Tiongkok yang berukuran 5 x 2.25 m2 untuk sungai besar.

Berhubung sungai Zanskar yang cenderung luas dan tenang dengan jarak jeram yang berjauhan, bisa dibilang kami berlomba mendayung dengan perahu tetangga dan menghabiskan waktu mengobrol dengan Tarzan (dan ngomongin Tarzan dalam bahasa Indonesia hahahah). Asyik menikmati hamparan pasir dan bebatuan pegunungan di kiri kanan, tiba-tiba terdengar bunyi jeram 500 meter di depan. Tidak ada bebatuan sama sekali sehingga jeramnya terlihat seperti ombak di laut yang sangat luas. Whoo hoo!

Empat jeram besar dan kecil kami lewati dengan total satu jam saja, dan harus diakhiri karena ada penutupan jalan oleh pemerintah India. Cukup membetekan, apalagi pelayanan operatornya sangat tidak nyaman. Mulai dari tidak ada konfirmasi tentang kortingan waktu rafting, makan siang yang ditiadakan, serta service yang tidak ada ramah-ramahnya acan.

Membawa pengalaman cukup mengesankan tersebut, saya akhirnya mencoba rafting di tanah air, tepatnya di Citarik, Sukabumi! Menggunakan voucher gratisan dari Caldera Rafting (psst, hati-hati jangan sampai kelewatan kalau Caldera bagi-bagi rafting gratis!), paket rafting Alligator 9 KM dan akomodasinya serta konsumsi sudah di tangan setelah reservasi lewat telepon.

Kepada guide senior yang mendampingi tim kami waktu itu, Mas Burhan, saya bertanya apa sih istimewanya bermain di sungai Citarik dengan Caldera? Beda negara, beda sungai, beda pula river running systemnya. Di antara total 21 jeram grade 3-4 untuk rafting 9 KM, Caldera telah menetapkan spot-spot air tenang dan jalur evakuasi untuk menjaga para tamu dan mengantisipasi dengan cepat hal yang tidak diinginkan terjadi. Penyediaan rescue pun wajib saat pengarungan, dan disesuaikan dengan kondisi jumlah perahu untuk menetapkan aturan 1 perahu rescue:5 perahu tamu ataupun leadboat.

Dengan lebar sungai yang sedang dan banyak bebatuan, maka perahu yang dipakai tidak seperti yang di Zanskar, pastilah ukuran yang lebih mungil dan pas dengan kontur sungai. Perahu biasanya diisi 2 sampai 6 tamu tergantung dengan ketinggian air. Normalnya ketinggian 50-80 cm adalah yang paling pas untuk berjeram di sungai Citarik. Mudahnya nih ya, kalau bebatuan di sungai Citarik tidak terlihat sama sekali dari permukaan alias terendam air, river guide Caldera tidak segan untuk menunda atau membatalkan arung jeram demi keselamatan teman-teman.

Jika ditanya mana yang lebih asik? Ya saya jawab di Citarik! Hehe dengan waktu ± dua jam dapat 21 jeram yang bukan basa-basi serunya, dan lebih mantap lagi karena guidenya yang nggak galak walaupun matanya super waspada. Empat kali berjeram di Citarik, satu hal yang bisa ditarik kesimpulan adalah level keasyikan teman satu perahu sangatlah berpengaruh. Ajaklah teman yang punya cadangan suara tak terbatas untuk berteriak bebas, bernyali kuat sampai meminta manuver spesial dari river guide (saya kasih bocoran, minta Tornado kalau rafting besok!), dan tidak panik menghadapi tantangan.

Caldera Rafting Citarik
Di salah satu jeram sungai Citarik. Whoo hoo!

Thank you Caldera Rafting sudah membawa saya berarung jeram dan selamat sampai rumah kembali. Sebagai seorang pemula, pastinya menjadi aman bertualang jika didampingi river guide yang bukan hanya berpengalaman, tetapi juga mengenal kontur sungai tersebut bagaikan anaknya sendiri (apalagi dijelasin dengan bahasa yang nggak neko-neko). Satu rahasia lagi, pilihlah operator rafting terpercaya dan memiliki reputasi yang baik, serta selalu dengarkan titah dari river guide demi keselamatan dan kenyamanan teman-teman beserta keluarga. Penasaran dengan Safety Procedure dari Caldera Rafting? Klik disini untuk versi lengkapnya. Happy rafting! 😉

Farah Hulliandini

* Artikel pernah dimuat di blog Caldera Indonesia tanggal 11 Februari 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s