Toleransi seorang Kartini

Siapa yang tak kenal Kartini? Dari kecil kita dicekoki dengan lagu “Ibu Kita Kartini”, lalu berparade menggunakan pakaian daerah masing-masing. Widiih, betapa bangganya saat itu kita bertanding keren dengan teman-teman sekolah. Semakin beranjak besar, Ibu Kartini berubah menjadi wanita yang memperjuangkan derajat wanita di seluruh Indonesia. Tanpa mengangkat senjata maupun tombak, tetapi dengan tulisan-tulisan dan pemikirannya sehingga berbuah sekolah yang membuka kesempatan bagi wanita lain untuk menuntut ilmu.

Di usia mudanya, kepada sahabat penanya di Eropa, ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu. Beliau pun mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Menurutnya, pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, saling menyakiti, dan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.

Yang mengejutkan saat Kartini berusia sekitar 24 tahun, beliau memupuskan niat untuk melanjutkan studi di Eropa dan Betawi. Beliau memutuskan untuk menikah dan menjadi istri keempat dari Adipati Rembang. Apa yang terjadi? Mengapa beliau memilih untuk menjalankan apa yang selama ini ditentangnya?

Hanya satu kesimpulan: Kartini menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan pribumi kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan pribumi saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa beliau sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan kepentingan luas, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, Kartini lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki.

Apakah ini terdengar familiar? Ya. Kita memiliki Kartini masing-masing di dekat kita. Seorang ibu yang mengorbankan masa mudanya untuk merawat anak dan suaminya di rumah. Seorang ibu yang mendidik anak-anaknya agar bisa berkarya melalui tanganmu. Ibu Kartini bukan sekadar emansipasi, yang meninggikan derajat wanita, lantas dikatakan feminis. Jadikanlah Ibu Kartini sebagai pengingatmu bahwa ada tujuan yang lebih besar dari kehadiranmu di dunia.

P.S. Ini dia Kartini versi Caldera, Mbak Iyel, alias ibu dari keluarga Buaya! Mana Kartini-mu? 🙂

23

Tulisan pernah dimuat di blog Caldera Indonesia tanggal 21 April 2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s