Dapur, Mulut, dan Perut

“Any of you already have plans after graduating? Becoming a food analyst, flavorist, or get a master scholarship?” Dari deretan 15 mahasiswa yang sedang ditanya oleh asesor dari Kanada, suara rendah keluar dari wanita bertubuh kurus :

“I will continue my business in food and beverage”

Terbelalak, lalu bertanyalah mereka: “Where did you learn about business and management?” Berbeda. Tidak sesuai perkiraan. Mungkin itu yang bisa ada di pikiran para asesor tersebut. Terlebih lagi karena mereka tidak mengira mayor Ilmu dan Teknologi Pangan mengajarkan tentang bisnis dan manajemen. Dasarnya hanya ada dua mata kuliah yang men-trigger otak tentang membuat produk pangan baru, selebihnya silakan cari sendiri di luar mayor, seperti mengambil minor dari Fakultas Ekonomi dan sebagainya.

Faktor kampus juga sih yang saya rasa memiliki faktor kuat dalam membentuk jiwa kewirausahaan. Dari blog seorang mahasiswa Kehutanan IPB angkatan yang sama, disebutkan bahwa mahasiswa IPB itu selain males minum obat dari poliklinik yang meragukan (sakit kepala saja bisa minum 4 butir obat), tapi juga :

Mahasiswa IPB itu suka tiba-tiba jadi pedangan asongan kalau lagi ada wisudaan, registrasi mahasiswa baru, atau acara lainnya di GWW, alasannya cuma satu “DANUS”

Dan ini YHA banget!!! Hahahah. Berawal dari uang yang sering telat dikirimkan dari rumah (dan nggak enak minta uang mulu), seorang teman saya yang bisa kita panggil Idung, mulai membuat onigiri ala-ala untuk dijual saat kuliah super pagi jam 07.00. Wuah, bagaikan primadona nasi kepal isi ikan tongkol itu, apalagi bisa dimakan saat dosen membelakangi mahasiswanya :p

Melihat peluang cantik dalam kelas yang manusianya belum sempat sarapan saat kuliah pagi, mulailah saya kolaborasi dengan Idung untuk menjualnya lebih luas lagi, dan dibuatlah versi lebih rapinya dengan sistem pre-order untuk menu yang lebih bergizi. Di zaman serba dadakan tersebut harus juga membuat brand yang kuat maka dicantumkanlah “Mendadak Katering” sebagai awal mula bisnis kecil tersebut. Tentunya dengan harapan nama itu akan berkembang menjadi “Katering Beneran”.

Nasi Goreng dalam Selimut
Produk Pertama “Mendadak Katering” Nasi Goreng dalam Selimut

Berjuang berdua dengan Idung rasanya mulai menggila, apalagi dengan produksi di kosan Idung memaksa saya harus berkorban nggak pulang ke kosan sendiri selama sebulan. Jadwal kuliah? Tetap jalan dong, masalahnya otaknya minta dibawa tidur terus. Bayangkeun, jam 3 subuh sudah mulai masak, jam 5 packing ke kotak makan, jam 6 harus distribusi, jam 7 kuliah, jam 13 praktikum di lab, jam 17 bikin laporan, jam 19 prepare bahan masak buat besok, jam 22 nyelesain apa yang belum beres atau tidur kalau beruntung. Jadwal bisa ‘agak’ bergeser jika ada rapat organisasi atau panitia acara. Repeat for the rest of the week *yassalam*

Saat itu datanglah Adski, yang niatnya kita tawarin buat langganan katering, malah mau gabung untuk bisnis bareng. Waktu yang sangat tepat! Memang kita perlu pria untuk pekerjaan yang kuat-kuat macam angkut barang *loh* hahahah. Dulu pernah kita belanja ke pasar, dan ibu-ibu menunjuk Adski dengan tidak berdosa sambil bilang:

“Loh neng, kuli-nya ikutan sampe rumah?”

Adski ini anak Ilmu Ekonomi, jadi tadinya diharapkan untuk ngerti keuangan kita (padahal mah doi belajar ekonomi makro hahahh). Tak dinyana doi jago sekali masalah marketing dan sales (buah dari bisnis ‘gelap’nya dulu), jadilah Adski kita nobatkan sebagai pimpinan (baca: perwira paling depan) yang ramah, Idung sebagai wajah dan akar ide segala produk dari Mendadak Katering, dan saya sebagai orang galak untuk masalah duit dan negosiasi sama karyawan atau media.

Beef Sandwich, produk dengan margin paling sempit :’D

Karyawan pertama kami adalah Umi, rumahnya di pedalaman dan perlu naik angkot Tumaritis, singkatan dari Angkutan Masyarakat Irit dan Praktis, yang ke arah Cianjur (entah ini hoax atau bukan). Setelah tiga bulan bersama, dan ketidakcermatan kami untuk me-manage karyawan kami, akhirnya Umi resign dan memilih untuk fokus merawat anaknya yang masih balita. Ceritanya panjang, mungkin akan ada satu postingan khusus yang saya dedikasikan untuk Umi, tapi yang bisa saya ambil kesimpulan adalah:

  1. Gaji karyawan baiknya terdiri dari dua, yaitu gaji tetap dan management fee. Gaji yang kedua ini bisa 20% dari keuntungan jika order lebih dari kesepakatan saat kontrak. Sama-sama senang, kan? 🙂
  2. Perhatikan lokasi dan keefektifan antara rumah karyawan dan lokasi penjualan.
  3. Komunikasi itu penting men! Justru pimpinan yang harus pro-aktif agar karyawan tidak ‘meledak’ di akhir.

*oke fix. Harus buat postingan khusus edisi Umi* :’)

Sampai satu titik kami butuh untuk mengembangkan usaha kami dengan membuka rumah produksi karena dapur kosan sudah tidak memungkinkan (dan dapur Umi sudah tidak bisa dipakai). Pas banget dengan momen PKM Dikti, sebuah event tahunan ini populer banget di IPB dan seluruh perguruan tinggi. Di tahun 2012 saja ada 7005 proposal yang didanai, mulai dari penelitian, kewirausahaan, sampai sosial, dengan 406 proposal berasal dari IPB, dengan kami salah satunya. Tak jarang satu mahasiswa bisa membawahi tujuh (tujuh!) proposal sekaligus. Saya masih belum tahu apakah semuanya mampu dijalankan secara maksimal. Hanya dia dan Tuhan yang tahu.

Alhamdulillah proposal tembus dan kami mendapatkan dana senilai XX juta. Aye! Dengan dana tersebut kami langsung tancap gas mewujudkan mimpi-mimpi kami (pret) dengan melakukan investasi lanjutan semacam beli kulkas untuk penyimpanan bahan baku, sewa rumah produksi, termasuk membeli gerobak bekas agar bisa branding dan jualan langsung di tempat yang super strategis.

Idung dan Adski

*oke. Bikin postingan tentang PKM-Kewirausahaan juga kali yess. Bismillah pengalaman yang dulu bisa berguna untuk adik-adik*

Gerobak si
Gerobak si “Pinky”
Special Order untuk promosi beras analog, maka tak ada nasinya karena mau diisi nasi analog 🙂

Dengan karyawan baru yaitu Mami dan Teh Indri, bisnis katering dengan produk baru “Mendadak Katering TO GO” ini lagi-lagi populer di kalangan mahasiswa yang doyan makan di kelas, karena boks-nya yang mudah dipegang dan disembunyikan dimana saja.

Nugget poster low
Katsu poster low

Setelah balik modal, menghasilkan keuntungan yang lumayan, serta membuat brand Mendadak Katering menempel di badan kami bertiga, kewirausahaan ini harus kami akhiri untuk sementara dan aset yang kami miliki diakuisisi oleh Koperasi Mahasiswa IPB. “Hidup adalah pilihan, termasuk menyelesaikan tanggung jawab kepada orang tua terlebih dahulu, yaitu lulus kuliah”.

Lantas, dengan mem-pause “Mendadak Katering” tidak akan berbisnis lagi? Bisnis pangan bisa dibilang tidak akan ada matinya. Baca peluang dan tepat sasaran, jalan insya Allah lancar walaupun tidak bebas hambatan. Jadi, masih terus penasaran untuk bisnis dan bisnis lagi! Dengan Adski dan Idung sedang nun jauh disana, saya ikut menggodok bisnis yang tidak jauh-jauh dari dapur, mulut, dan perut. Seperti apa sih ceritanya? Tunggu! :’)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s