Penjelajah Averaging Down

Semangat pagi!

Waaah sudah lama tidak menulis dan rasa-rasanya ini adalah perdana di bulan Juli. Yay! Setelah melewati bulan puasa dan segala macam cobaannya, mari kita ucapkan mohon maaf lahir batin. Semoga kita bisa dipertemukan dengan Ramadhan berikutnya. Aaamin! πŸ™‚

Pembukaan IHSG hari ini setelah libur super panjang bisa dibilang bikin sport jantung! Walaupun masih agak lesu karena orang-orang sepertinya belum pulih benar, tetapi hari ini adalah penanda proses yang cukup menegangkan dan akhirnya sedikit berbuah hasil. At least titik terang laah hahahah.

Sudah sejak lama istilah averaging down dicekoki oleh ayah saya, tapi ini adalah teknik yang sangat berbahaya untuk pemula moody macam saya begini. Mari kita mulai penjelajah ‘turun tangga’ di portfolio Farah :p

Semen-Baturaja

Saham pertama yang waktu itu dipaksa (dipaksa! Karena Papa nelpon langsung broker saya tanpa minta persetujuan T.T) averaging down SMBR. Saat itu harga sudah turun 19% sekitar dua minggu dari pembelian pertama, dan sekarang malah nyangkut -43% dari harga average. Ini istilahnya nyangkut sodara-sodara. Dana udah habis pun, dan saya ga mau habisin dana buat SMBR lagi, yasudah tinggal tunggu saja dalam waktu beberapa tahun lagi.

Averaging down itu berbahaya. Kalau salah masuk kedua kalinya dan ternyata masih tren turun, siap-siap dana lebih untuk beli lagi atau tinggal elus dada saja.

dYJF3HXV

Saham kedua yang saya coba cicil-cicil adalah GIAA. Saya beli ini karena faktor kesukaan sama maskapai negara yang kece abis ini, dan mikir kalau lagi musim mudik begini maskapai bisa untung banget lah ya. Pelajaran kedua:

Jangan beli sesuatu karena faktor cinta. Bacalah sejarah dan laporan keuangannya, sekeren apapun emiten/ perusahaan tersebut.

Lucunya, nyicil GIAA ini tanpa baca grafik sama sekali. Misal beli pertama harga 500, eh turun ke 490 saya beli lagi, dan seterusnya. Padahal tren terus menurun dan saya terus menerus beli. Hahahahah aduh ga ketulungan lagi dungdungnya.

Jika mau averaging down, pantengin grafik dan belilah saat candle menunjukkan adanya balik arah naik.

downloadLain cerita untuk averaging down BMRI. Pas pertama beli awalnya karena terpaku sama reputasinya yang cukup mumpuni sebagai salah satu dari tiga bank terbesar dari sisi nilai aset, sebelas dua belas sama BBRI dan BBCA. Ketika harga sudah turun 9% dan menunjukkan adanya arah balik naik untuk jangka pendek, saat itu juga saya averaging down dan menunggu sinyal hingga cukup untuk profit taking.

Seperti itulah percobaan averaging down yang telah saya lakukan selama setahun ini. Kadang-kadang nyesel juga sih, kenapa nggak diseriusin belajar saham dari dua tahun lalu sejak buka akun sekuritas. Well, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali hehe.

Entah mengapa dengan generasi zaman saya, alhamdulillah kesadaran teman-teman akan perlunya income selain pekerjaan tetap sangatlah tinggi. Pertanyaan yang terlontar dari teman-teman biasanya berurut seperti di bawah ini, dan saya pribadi pasti akan menjawab seperti ini:

1. “Tahu dari mana sih perusahaan yang oke untuk dimiliki sahamnya?”

Saya mulai dari perusahaan blue chip, karena saking luasnya kepemilikan saham perusahaan maka akan semakin netral dan mudah untuk dipelajari. Cermati fundamentalnya dan hitung nilai intrinsik dari perusahaan tersebut.

2. “Terus kapan waktu untuk beli dan jual sahamnya?”

Paling mudah adalah pakai indikator Bollinger Band. Indikator ini ibarat jaring-jaring yang ada di atas dan bawah suatu grafik. Bagaikan tali kolor, Bollinger ini ‘memaksa’ harga untuk bergerak dalam kisaran wajar.

3. “Mau lihat grafik ada dimana?”

Pastinya yang gratisan dong! Tinggal Googling aplikasi NexusChart. Jangan lupa pilih real-time interactive.

4. “Kalau mau main saham dimana?”

Buka akun di sekuritas. Minimal saldo untuk pembukaan awal di Mandiri Sekuritas adalah 5 juta untuk mahasiswa dan 10 juta untuk non-mahasiswa. CIMB Sekuritas dulu sempat 1 juta saja untuk buka rekening, mungkin sekarang sudah berubah kali yah.

5. “Main saham itu halal nggak sih?”

Sekarang saya tanya balik: “Memiliki perusahaan itu halal nggak sih?” Hehe walaupun saya pakai sekuritas yang belum syariah, tetapi saya stay true untuk jauh dari perusahaan rokok maupun bir. It’s your choice πŸ™‚

Oh ada juga yang menyamakan saham dengan judi. Kalau kita melakukan analisis fundamental mendalam dan segala macamnya sampai kepo ke jajaran direkturnya, menurut saya itu sangatlah berbeda dengan judi yang sembarang bid, offer, dan probabilitasnya.

6. “Apakah investasi harus di saham? Kan resikonya gede.”

Saya sangat tidak menyarankan untuk berinvestasi seluruhnya di pasar saham. Bagilah dengan mayoritasnya di investasi resiko medium semacam reksadana dengan manfaat kesehatan, dan sisakan sekitar 18 bulan pengeluaran di tabungan untuk kebutuhan hidup.

Sebanyak-banyaknya teori dan pengalaman senior yang saya baca, entah mengapa berakar menjadi “Beli itu gampang. Jualnya yang susah.” Terus semangat belajar, jangan pernah menyerah. Kepala harus tetap dingin walaupun portfolio membara! Aye!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s