Your Ultimate Guide to Slamet

Catatan perjalanan ke Gunung Slamet via Bambangan ini penting banget untuk kalian yang kehabisan bus reguler, kesorean sampai Purwokerto, berencana mendaki malam, dan ingin punya waktu istirahat sebelum bekerja kembali di hari Senin :’)

Pengumuman: Ini adalah catatan perjalanan PERTAMA gueeee hahahah (anaknya memang paling males kalau bikin detil beginian). Hmm.. Sepertinya ini bisa menjadi guide paling lengkap dan ada bumbu emosionalnya agar para pembaca dan pendaki bisa membayangkannya sebelum mendaki Gunung Slamet. Pengalaman naik gunung penulis hanya kelas pemula yang sangat beruntung dikelilingi oleh ranger-ranger yang uniknya juga merasakan sedikit banyak hal yang sama. Perjalanan dan pendakian ini kami lakukan selama 4H3M, yaitu tanggal 4-8 Mei 2016 keberangkatan dari Jakarta, beranggotakan Dodi Wijaya, Farah Hulliandini, Hanni Yubetri, M. Sobich Maimun, M. Iqbal Guci, Olga Ance Salim, Raden Dani B, Raden Wisnu, dan Seno Suwikatmono. NB: Semua anggota baru pertama kali mendaki Gn. Slamet.

1462673594481.jpg
Gerombolan Sembilan di Puncak Gunung Slamet (3428 mdpl)

[Rabu, 4 Mei 2016]

17.00 Berangkat dari tempat kerja dan domisili masing-masing ke Terminal Kampung Rambutan.

20.00 Tiba di Terminal Kampung Rambutan.

Warning banget ini ya, karena long weekend dan kemacetan Jakarta mengganas, serta keadaan di Terminal Kampung Rambutan yang sangatlah padat. Naik bus metromini ataupun ojek online waktu tempuhnya TIDAK akan mengalami perbedaan yang signifikan.

21.00 Mulai masuk Terminal mencari bus menuju Purwokerto. Sempat melihat bus reguler yang terakhir, tetapi sangat penuh dan kami akhirnya memilih untuk menunggu keberuntungan.

22.00 Datanglah sebuah bus sewaan menuju Purwokerto dan kami bisa keluar dari Jakarta!

Bus sewaan itu apa sih? Jadi, terlepas dari bus reguler yang melayani dengan pasti, bus sewaan ini memiliki tarif yang lebih tinggi dan fleksibel bisa pergi kemana aja, tergantung dari demand penumpang yang ada di terminal saat itu. Kebetulan, penumpang yang tujuannya ke Purwokerto membutuhkan sekitar dua bus dan tarifnya menjadi Rp 130.000,00, berbeda sekitar 40-50 ribu dibanding bus reguler.

[Kamis, 5 Mei 2015]

01.00 Posisi bus masih di Bekasi Pekayon.

05.00 Posisi bus baru keluar dari Jawa Barat (!!!)

12.00 Terjebak kemacetan Pantura di Brebes-Tegal-Brebes. Kehabisan solar jadi sempat mogok busnya dan ada drama nyaris ketinggalan karena kelamaan di toilet.

17.30 Sampai di Terminal Purwokerto! Total waktu Jakarta-Purwokerto : 18 jam. Lanjut naik minibus arah Purbalingga seharga Rp 20 ribu selama satu jam perjalanan.

Disini ada dua pilihan untuk transfer perjalanan ke Basecamp Slamet, yaitu dari Serayu atau Bobotsari. Kami memilih untuk ke Serayu karena kebetulan dapat nomor telepon Mas Carry yang di Serayu. Choice is yours lah.

18.30 Sampai di Serayu. Lanjut naik carry seharga Rp 30 ribu per orang sampai ke basecamp.

20.00 Sampai di Basecamp (1502 mdpl). Gegoleran, makan, dan repacking. Kalau mau makan yang murah dan enak di warung persis depan basecamp saja. TOP!

basecamp2bbambangan
Basecamp Gn. Slamet jalur Bambangan. Photo via pecintakaldera.blogspot.com

Di basecamp ini wajib hukumnya untuk lapor dan mengikuti briefing. Pertama, perlu registrasi di pos sebelum basecamp dan membayar Rp 10 ribu per orang serta menuliskan data-data peserta. Lalu di basecamp mengikuti briefing dan konsultasi jadwal pendakian serta membayar biaya Rp 5 ribu per orang. Nanti saat briefing juga akan dikasih peta perjalanan pendakian serta hotline bling (#eh) seandainya perlu evakuasi.

23.00 Mulai pendakian. Target: Pos 5.

[Jumat, 6 Mei 2016]

01.30 Sampai di Pos 1 (1937 mdpl). Waktu tempuh Basecamp-Pos 1: 2.5 jam. Ini… adalah Pos 1 terpanjang yang pernah kami rasakan. Medan awalnya adalah perkebunan warga lalu dilanjutkan dengan hutan pinus. Huf huf!

04.00 Sampai di Pos 2 (2254 mdpl). Waktu tempuh Pos 1-Pos 2: 2.5 jam. Disini perjalanan sudah mulai melelahkan, apalagi trek lebih menanjak dan vegetasinya mulai merapat. Bagi saya yang tinggi badannya 150 cm, tanjakan ini memaksa muka saya untuk bertemu dengan lutut *adegan cium lutut* Kami pun memutuskan untuk beristirahat di Pos 2 dengan mencari celah-celah di antara para pendaki yang tidur bertebaran sepanjang jalan.

Untuk para pendaki malam, siapkan sleeping bag dan matras aluminium in case tidak ada tempat untuk mendirikan tenda, apalagi di kepadatan 2.500-3.000 pendaki ini. Suhu terhitung dingin dan berangin.

09.00 Setelah beristirahat dan sarapan kecil, kami melanjutkan perjalanan. Target: Pos 5.

11.00 Sampai di Pos 3 (2510 mdpl). Waktu tempuh Pos 2-3: 2 jam. Medan Pos 2-3 tidak jauh berbeda dengan Pos 1-2. Namun, perbedaan stok energi lah yang membuat pendakian terasa berbeda. Masih semangat! Jos!

12.00 Menemukan tempat yang cukup untuk tiga tenda sebelum Pos 4 telah menggoda ketua kelompok kami, Sobich, untuk mendirikan tenda. Apalagi saat itu pendaki yang turun masih lebih sedikit dibandingkan pendaki yang naik, sehingga kami memilih mengamankan tempat dan beristirahat sebelum summit esok hari. Target camp di Pos 5: Gugur.

20160507_113401.jpg
Camp kami di pos 3 3/4. Flysheet sengaja dicopot agar terlihat penampakannya #boongdeng

[Sabtu, 7 Mei 2015]

00.30 Berangkat menuju Puncak Gunung Slamet dari Pos 3 3/4! Disini saya tidak menghitung durasi perjalanan dari pos 4-5-6-7-8-9, karena keadaan sangat gelap dan lama-kelamaan terjadi antrian yang mengular dan berbentuk lorong sempit, sehingga melewatinya pun harus bergantian. Namun, dari segi medannya, pos 4-5-6-7-8-9 ini terhitung pendek (namun cukup panjang bila digabungkan) dan tidak terlalu melelahkan dibanding Basecamp-1-2-3.

1462673554844.jpg
Rombongan 2 di Pos 8 pada pukul 04.30. Brrrrr! Photo by Iqbal.

05.00 Rombongan 1 sampai puncak. Rombongan 2 masih berjuang di Pos 9-Puncak. Waktu tempuh Pos 3 3/4 – Puncak: 5 jam. Medan ini bentuknya longsoran kerikil dan batu, rawan kabut serta badai. Saat briefing, akan disarankan untuk summit sebelum jam 10 pagi karena angin sangat kencang di atas jam tersebut.

20160507_054254.jpg
Dodi, ranger bebatuannya Farah, sedang menikmati sunrise di jalur Pos 9-Puncak Slamet :p
20160507_054223.jpg
Sobich dan Hanni. Pose super alami.
20160507_074441.jpg
Jalur menuju puncak. Awas batu! *Kalau kata orang sih, jalur ini gabungannya Mahameru sama Merapi. Jangan lupa bawa sarung tangan karena disini harus banget pakai empat ‘kaki’ 😉
1462673602460.jpg
Mayan, bisa ketawa abis dikasih apel sama Seno-Ayash :3. Photo by Iqbal.

07.00 Turun menuju camp 3 3/4.

10.30 Sampai di camp 3 3/4. Istirahat dan packing.

12.15 Berangkat turun. Cuaca mendung, lalu hujan deras tanpa henti hingga sore. Medan sangat licin karena jalur pendakian adalah aliran air. Ibarat kata nih ya, off-road di lumpur tapi pakai kaki.

16.30 Rombongan 1 sampai Basecamp. Waktu tempuh Pos 3 3/4-Basecamp di waktu hujan: 4 jam 15 menit.

18.00 Rombongan akhir sampai Basecamp. Waktu tempuh Pos 3 3/4-Basecamp di waktu hujan: 5 jam 45 menit. Kayaknya saya hobi banget sampai basecamp magrib-magrib huhu, untung ada ranger Dani yang sudah setia sejak 2013 :’)

Pemilihan jalur pulang ini sangat menentukan mood dan durasi loh. Sesampainya di Pos 1, akan ada percabangan jalan menuju Basecamp, yaitu jalan lurus atau belok kanan. Jalan lurus adalah jalur reguler, yang waktu tempuhnya sekitar 1-1.5 jam, sedangkan jalur kanan adalah jalur pintas yang dipakai para ranger, durasi lebih pendek serta ada sungainya bisa seger celup-celup.

18.30 Mandi, makan, dan gegoleran di Basecamp.

Untuk kegiatan bebersih bisa dilakukan di Basecamp, tapi ngantrinya masya Allah. Coba tanyakan pada warung-warung sekitar untuk menumpang mandi. Bayarnya sama kok, Rp 5 ribu rupiah per orang.

21.00 Pulang menggunakan mobil travel menuju Jakarta. Ini nih penemuan paling amazing oleh Hanni. Jadi, sewaktu doi mengantri toilet, mengobrollah dia dengan seseorang lalu menawarkan mobil travel barengan ke Jakarta. Harganya Rp 170 ribu per orang –lebih hemat daripada ngeteng– dan menggunakan jalur Non-Pantura alias ngebelah tengah! Durasi lebih cepat dan stress-free lah pokoknya! Apalagi mobil travel tersebut mengantar kita sampai rumah atau daerah sekitaran (tinggal dikompromikan dengan bapak supir). Asik khaaaaan?

20160508_061109.jpg
Nih nomor teleponnya. Kata Hanni, bapaknya itu kerja di Basarnas dan sambilannya bikin beginian 😉

Overall, Gn. Slamet menyajikan pemandangan dan perasaan yang campur aduk untuk saya (untuk beberapa anggota tim bahkan tidak ingin kembali lagi hahahah). Tetapi, ini adalah gunung dengan paket super duper lengkap dan terhitung memuaskan untuk perjalanan sekali setahun — saking puas dan muaknya sama jalan kaki dan jalan jauh. Saya recommend untuk mendaki Gn. Slamet setelah merasakan Gn. Papandayan, Gede, dan Pangrango terlebih dahulu sehingga bisa pemanasan Pos 1-2-3-nya Slamet dengan Pos Kandang Badaknya Gede-Pangrango.

Oh iya, berhubung kami mendaki di bulan Mei, kondisi tanah sangatlah lembut serta lembab. Jadinya empuuuk banget dan nggak berdebu. Di hari kedua kami sempat mendapatkan air bersih pun dari mata air pos 5, namun karena gerimis menyebabkan air menjadi keruh di esok hari. So, pilih waktu di musim hujan yang jumlah air turunnya ga kejam-kejam amat untuk mengunjungi Gn. Slamet.

Akhir kata, selamat menjelajah!

1462673577609.jpg
#werenotreadyandclick 😉

Tambahan: ini guide sheet dari Basecamp saat briefing pertama. Semoga membantu 🙂

wp-1462787625937.jpeg
wp-1462787625944.jpeg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s