Tidak Semua Benjolan di Payudara Itu Berbahaya

Akhir-akhir ini, sedang banyak pemberitaan tentang SADARI (Periksa Payudara Sendiri) karena pemberitaan seorang figur publik dan tumor payudara. Sedikit banyak, ceritaku mirip dengan beliau. Bahkan, aku mulai menyadarinya lebih cepat, yakni sekitar usia 21 tahun saat aku menjalani perkuliahan. Aku merasakan adanya benjolan di payudara kiri dan kanan.

Berhubung aku orang yang cukup parno, saat itu aku langsung konsultasi dengan dokter onkologi di RS PMI, Bogor. Beliau menyarankan untuk dilakukan ultrasound. Dokter RS PMI menerjemahkan hasil ultrasound bahwa benjolan di PD-ku berukuran kecil dan berjumlah banyak, namun tidak berbahaya. Dokter tersebut menyarankan untuk langsung dioperasi dan menanyakan jadwalku untuk segera dijadwalkan tindakan operasi. Sontak, aku langsung menolak dan meminta waktu untuk berpikir ulang. Pikirku, jika tidak berbahaya, mengapa sang dokter menyarankan untuk operasi dengan terburu-buru?

Beberapa tahun berlalu, namun benjolan tersebut masih belum hilang juga. Malah kurasakan semakin membesar dibanding dulu. Maka setelah 4 tahun sejak pemeriksaan pertamaku, kuputuskan untuk melakukan pengecekan kembali dengan dokter yang berbeda. Berhubung aku berada di UK pada tahun 2017, aku menggunakan fasilitas NHS alias National Health Service, semacam BPJS Kesehatan. Tahapannya, aku harus mendaftar ke klinik kesehatan utama untuk konsultasi dengan dokter umum (atau GP) terlebih dahulu, baru bisa ke Rumah Sakit untuk tes dan konsultasi lanjutan.

Di klinik dilakukan tes sederhana dengan melihat dan merasakan benjolannya. Saat itu aku ditanya, apakah merasa sakit jika ditekan dengan tangan. Jika sakit, maka benjolan tidak berbahaya. Malah jika tidak sakit, itu yang berbahaya dan perlu tindak lanjut. Aku merasakan sakit yang tidak parah, seperti dicubit, namun aku tetap meminta pemeriksaan lebih lanjut agar lebih tenang ke depannya. GP-ku juga tidak bisa menentukan penyebab adanya benjolan ini hanya dengan pemeriksaan sederhana, sehingga perlu dirujuk ke rumah sakit.

Seminggu kemudian, aku ke rumah sakit di domisiliku, Royal Berkshire Hospital, untuk konsultasi lanjutan sesuai jadwal yang telah dibuat sebelumnya. Jadwal pemeriksaan ini tidak boleh bertepatan dengan siklus haid, karena akan berpengaruh pada kondisi payudara. Setelah konsultasi dan tes sederhana, dokterku memutuskan untuk melakukan dua tes di hari yang sama, yakni breast X-ray (mammogram) dan biopsi. Yang aku nantikan adalah tes mammogram, sangat penasaran karena aku belum pernah melakukannya. Ternyata, sakitnya seperti kejepit pintu, di payudaramu. It was not pleasant at all.

Ilustrasi Mammogram (Sumber: American Cancer Society)

Penderitaanku tidak berakhir disitu, karena ada yang lebih menyakitkan yaitu biopsi. Prosedur ini menggunakan jarum yang ditusukkan ke payudara untuk mengambil sampel dari benjolan tersebut. Dokterku memilih untuk mengambil sampel dari benjolan berukuran sedang dari payudara kananku, dan rasanya lebih sakit daripada suntikan jarum apapun. Setelah dari biopsi, aku dimita untuk menunggu maksimal 2 minggu untuk hasilnya. Sore itu, aku pulang sambil menangis saking traumatisnya tindakan biopsi tersebut. Payudaraku bahkan masih berdenyut nyeri sampai seminggu setelah biopsi.

Ilustrasi Biopsi Fine Needle (Sumber: Cancer Research UK)

Seminggu berlalu, belum ada telepon dari RS. Fiuh, berarti bukan sesuatu yang mengkhawatirkan, pikirku. Bagusnya sistem NHS ini adalah prioritas. Jika hasil tes menunjukkan sesuatu yang berbahaya seperti kanker, maka RS akan menghubungiku dalam 3-7 hari agar segera bisa ditindak secepat mungkin. Jika tidak membahayakan nyawa, maka aku akan dihubungi kembali dalam 2 minggu. Akhirnya, sebelum dua minggu berlalu, aku sudah ditelepon RS untuk datang kembali melihat hasilnya.

Dokter menunjukkan hasil mammogram kedua payudaraku. Pada bagian kiri ada satu benjolan berukuran sedang; dan di bagian kanan ada dua benjolan sedang dan satu kecil. Di antara benjolan yang kasat mata ini, ada lebih banyak namun dengan ukuran lebih kecil sehingga tidak terasa oleh tanganku. Hasil biopsi menunjukkan bahwa benjolan payudaraku merupakan FAM atau fibroadenoma mammae, yang merupakan gumpalan jaringan jinak akibat kelebihan pembentukan kelenjar penghasil susu dan jaringan di sekitar payudara. FAM tidak akan berkembang menjadi kanker, namun nantinya akan berubah ukuran bahkan menghilang dengan sendirinya.

Menurut dokter, benjolan yang paling besar ada di payudara kananku sebesar 2,8 cm, dan tidak disarankan untuk dilakukan operasi pengangkatan sama sekali. Jika berukuran lebih dari 3 cm, maka baru disarankan untuk diangkat karena akan mengganggu keseharian. So, I have nothing to worry about.

Bagi wanita yang mulai menginjak usia 20 tahun, sangat penting untuk belajar mengenal anatomi tubuhnya sendiri. Sehabis mandi, sisihkan waktu 2 menit untuk mengecek payudara dengan 6 Langkah SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Jika menemukan benjolan baru, jangan panik seperti diriku ini. Ada 3 jenis benjolan payudara yang kupelajari dari brosur NHS, dan sangat membantu dalam mengidentifikasinya sendiri. Namun, jika masih khawatir dan ingin lebih yakin, maka segera periksa diri ke dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Apa saja sih 3 jenis benjolan di payudara dan penyebabnya? Berikut informasi yang kukumpulkan dari brosur dan website NHS.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s