Cara Simpel Memilih Saham: Bego tapi Oke!

Hai, para penggemar. Hehehe, akibat WFH jadi nonton semua video stand-up comedy Dodit Mulyanto dan ketularan deh. Terinspirasi dari beliau, yang terlihat sederhana tapi nyatanya cerdas dalam berpikir, maka tema hari ini adalah cara bodoh-bodohan tapi efektif jika dilakukan benar.

Seperti kata pepatah: if it works, it ain’t stupid!

Kali ini kucoba untuk memberanikan diri menjawab pertanyaan teman-teman yang baru saja memulai eksplorasi dunia pasar modal. Jujur saja, aku merasa bukan orang yang tepat untuk menjawab pertanyaan “Gimana sih caranya memilih saham dari sekian banyak pilihan?” Biasanya aku lempar saja jawaban standard: “Pilih saham yang kalian kenal dan kalian pake produknya.” Tuh, biasa banget ya. Kujamin, orang-orang yang mendengar itu sangat tidak puas mendengarnya.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa cara tersebut adalah hal yang paling mudah untuk dimengerti, karena butuh hal yang relevan untuk kita sehingga menjadi semangat untuk mempelajarinya. Dimulai dari kenal, menelusuri kepribadiannya lebih jauh, abis itu pacaran atau nikah deh. Sama aja kan seperti PDKT? 🙂

Dalam perjalanan, mungkin teman-teman ingin melebarkan sayap lebih jauh alias penasaran. Lantas, bagaimana cara mudah untuk memilih saham di luar hal yang kita kenal? Berikut adalah cara yang saya rasa pas untuk dicoba.

  1. Pilih indeks yang ada di Bursa Efek Indonesia

Loh Far, bukannya indeks BEI itu IHSG saja ya? Wah, jangan sedih, ada banyak pilihan indeks yang dapat kita pilih untuk memudahkan pemilihan saham. Hingga awal tahun 2020, terdapat 34 indeks saham di BEI. Indeks yang paling banyak dikenal selain IHSG adalah LQ45, IDX30, Indeks Syariah (ISSI), dan SRI-KEHATI. Ada juga indeks sektor seperti pertambangan, keuangan, manufaktur, dan sebagainya. Pilihlah satu atau dua indeks yang ada di daftar indeks BEI ini, sehingga ini bisa digunakan untuk pemilihan awal dari universe kamu.

2. Lakukan analisa fundamental dan teknikal

Setelah terpilih 30-45 saham yang ada di indeks pilihan, maka seyogyanya untuk di-filter kembali menjadi kelompok yang lebih kecil. Jika memilih indeks dengan kumpulan beragam sektor, maka bisa dimulai dengan memilih sektor yang diinginkan. Pemilihan sektor ini biasanya dimulai dengan mengamati situasi ekonomi makro. Misal, pemerintah sedang berfokus pada pembangunan infrastruktur, maka sektor saham infrastruktur patut mendapat perhatian.

Setelah menentukan sektor, maka saatnya untuk mempersempit kembali pilihan saham yang ada. Misalnya, dari 5 saham yang ada di sektor tersebut, maka perkecil lagi pilihannya menjadi 2-3 saham. Untuk memilih, kita perlu membandingkan kelima saham tersebut dari kinerja keuangan, rencana perusahaan, hingga proyeksi ke depannya. Perbandingan kinerja ini akan lebih mudah karena berada dalam satu sektor yang sama, sehingga apple-to-apple. Cara lain yang perlu dilakukan adalah membandingkan market kapitalisasi serta likuiditas dari perdagangan saham tersebut.

Setelah melakukan analisa fundamental baik makro dan mikro, maka lanjut ke analisa teknikal. Analisa yang aku rekomendasikan adalah support & resistance. Ini merupakan tools teknikal yang paling sederhana, namun perlu latihan banyak agar dapat menguasainya. S&R adalah alat belajar yang tepat untuk memahami pergerakan pasar, sehingga membantu membaca timing transaksi saham.

3. Seleksi rekomendasi research analyst

Ada dua sumber hasil research yang aku rekomendasikan. Pertama, research report dari sekuritas. Di Indonesia, research masih bersifat gratisan dan mudah diakses. Jadi, manfaatkanlah fasilitas ini, apalagi jika sekuritasmu punya tim research yang mumpuni. Bentuk research ada bermacam-macam, mulai dari economics, fixed income, hingga equity. Khusus untuk tema ini, cukup gunakan analisis equity research analyst.

Aku ambil contoh equity research report dari Mandiri Sekuritas. Pada bagian akhir report, terdapat valuasi dari saham yang di-cover oleh tim research Mansek. Universe-nya memang saham terpilih yang mencerminkan kapitalisasi market dan pengaruhnya terhadap sektor tersebut. Perhatikan secara khusus kolom kedua dari kiri, yakni kolom rating. Ini merupakan simpulan dari analisa fundamental yang telah dilakukan oleh tim tersebut. Tiga rating dasar yang dikeluarkan adalah buy, neutral, dan sell.

Contoh equity valuation oleh research team (Sumber: Mandiri Sekuritas)

Selain research report dari sekuritas, bisa juga akses informasi saham melalui Reuters. Mirip dengan Bloomberg, Reuters menyediakan rekap kinerja keuangan, rasio, serta rating rata-rata dari para analyst. Aplikasi yang juga menyediakan info ini ada RTI Business dan Stockbit.

Contoh average analyst rating di Reuters (Sumber: Reuters)

Nah, untuk menguatkan keputusan pilihan saham, bisa kombinasi dari rekomendasi para analyst. Sistem rating ini cukup beragam, para analyst memiliki preferensi atas istilah yang mereka gunakan. Namun, secara garis besar, istilah rekomendasi ini dikelompokkan menjadi lima kategori besar: buy, outperform/overweight, hold/neutral, underperform/underweight, sell.

Untuk memahami lebih lanjut, silakan klik gambar di atas untuk penjelasan yang lebih mendalam akan rating. (Sumber: Investopedia)

Rating para analyst ini dapat digunakan untuk menguatkan strategimu yang sudah ada. Sebaiknya tidak digunakan sendirian sebagai basis dasar dari eksekusi saham.

Wah, akhirnya selesai juga pembentukan universe saham ini. Semoga membantu mencerahkan bagi teman-teman yang ingin mulai mendalami dunia pasar modal. Kita masih sama-sama belajar, jadi tetap semangat dan ayo cuan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s