CFA: Komitmen Belajar 900 Jam

Apa sih CFA itu? Chartered Financial Analyst, atau disingkat CFA, adalah sebuah sertifikat profesi yang diberikan oleh CFA Institute untuk individu yang bekerja di sektor keuangan. Untuk dapat mencantumkan sertifikasi CFA di belakang nama, perlu melewati 3 tahap ujian yang tidak mudah, pengalaman 5 tahun dalam bidang yang sesuai dengan koridor CFA Charterholder, serta membayar biaya keanggotaan yang tidak murah. Ya, mereka berusaha mempertahankan integritas dan eksklusivitasnya sehingga tidak semua orang dapat mencantumkan gelar CFA dengan semena-mena.

Tips ini aku tulis berdasarkan pengalamanku dalam mempersiapkan ujian CFA Level I bulan Juni tahun 2017 di London, UK. Pada saat itu, jurusan kuliahku memiliki paket bundling belajar dan ujian CFA Level I. Bagi aku yang senang melakukan beberapa hal secara bersamaan (baca: menyusahkan diri sendiri), maka ini adalah jalan terbaik untuk mendapatkan gelar akademis sekaligus memulai langkah sertifikasi profesi. Pada periode Juni 2017 itu, terdapat 151 ribu peserta ujian dimana tingkat kelulusannya beragam pada level yang berbeda: Level I 43%, Level II 47%, dan Level III 54%. Sebuah passing rate yang menakjubkan, sehingga tidak heran CFA ini menjadi salah satu sertifikasi yang ditakuti. Tapi ingat, takut itu hanya untuk orang-orang yang tidak mempersiapkan dirinya dengan baik. Jadi, bagi teman-teman yang berniat maupun akan memulai petualangan CFA ini, semoga kumpulan tips ini membantu dalam menata strategi persiapan serta hari-H ujian, sehingga investasi waktu dan uang kamu tidak percuma dan bisa lulus ujian dalam sekali hantam! 😀


Timeline CFA
Tes CFA dilakukan secara serempak di seluruh penjuru dunia setiap tahunnya. Secara umum, terdapat tiga level tes CFA: Level I, Level II, dan Level III. Tes Level I CFA diadakan dua kali dalam setahun (Juni dan Desember), sedangkan tes Level II dan III CFA hanya sekali setahun di bulan Juni saja. Jika teman-teman berniat untuk menuntaskan CFA hingga level akhir, maka harus dilakukan secara 3 tahun berturut-turut. Alur waktu terbaik untuk memulai perjalanan CFA ini adalah mengambil tes Level I di bulan Juni. Jika semuanya berjalan dengan baik sesuai rencana yakni lulus Level I dalam sekali percobaan, maka teman-teman bisa langsung mempersiapkan diri untuk tes Level II tahun depan dan selanjutnya. Jika gagal pada tes Level I di bulan Juni tersebut, maka masih ada waktu untuk mengulang tes yang sama di bulan Desember.

Namun, dikarenakan pandemi Covid-19 terdapat perubahan dalam pengadaan tes CFA yang semula paper-based menjadi computer-based. Pun, timeline ujian diperbanyak untuk memecah penumpukan peserta dalam satu waktu menjadi 4x pada tahun 2021 (Februari, Mei, Agustus, dan November).

Ilustrasi ruang ujian CFA Level I di ExCel London (sebelum pandemi).
Sumber: Largest ACCA Exam Center in the World (London UK Excel Centre) by Syed Mahmood on Youtube

Biaya CFA
Biaya yang perlu dikeluarkan untuk mendapatkan sertifikasi CFA ini cukup besar. Per tahun 2020, biaya registrasi atau enrollment fee yang harus dibayarkan sekali saja sebelum ujian Level I sebesar USD 450, lalu biaya yang dibayarkan untuk setiap levelnya sebesar USD 700. Sehingga total biaya untuk menyelesaikan tiga level CFA sebesar USD 2.550 atau IDR 37,5 juta (kurs 14.700). Dengan biaya di atas, teman-teman hanya mendapatkan soft copy materi dari CFA Institute yang harus dipelajari mandiri. Oh ya, jika teman-teman gagal dalam satu ujian, maka kamu harus kembali membayar jumlah yang sama pada saat mendaftar ulang ujian. Tidak ada diskon dan kompromi.

Setelah lulus ketiga level ujian tersebut, maka teman-teman bisa mengajukan keanggotaan CFA Charterholder dan melalui serangkaian seleksi kelayakan serta bersedia membayar membership fee sebesar USD 275 setiap tahunnya. Jika tidak, maka teman-teman tidak berhak untuk mencantumkan sertifikasi CFA di belakang nama.


Menata Waktu Belajar
No pain, no gain” adalah sebuah quote yang tepat untuk menggambarkan persiapan tes CFA ini. Secara rata-rata, CFA Institute menyarankan untuk menghabiskan waktu belajar sebanyak 300 jam untuk setiap level ujian. Jika dalam sehari calon peserta ujian meluangkan waktu 2 jam untuk mempelajari materi dan topik yang ada, maka diperlukan waktu 5 bulan untuk menuntaskan seluruh materi yang ada. Namun, menuntaskan saja belum cukup, karena diperlukan pengulangan sebanyak 3-7 kali serta latihan soal dalam kondisi yang dibuat riil.

Eeeh, tapi aku hanya punya waktu 3 bulan sebelum ujian. Gimana dong? Ya berarti luangkan waktu 3-4 jam setiap harinya agar kuota minimal 300 jam itu tercapai. No excuse. Maka dari itu, dibutuhkan komitmen yang kuat untuk memulai dan menuntaskan perjalanan CFA ini, atau semuanya menjadi mubazir dan sia-sia. Apalagi jika persiapan tes CFA ini dilakukan di sela-sela pekerjaan maupun perkuliahan, sudah menjadi rahasia umum bahwa calon peserta ujian CFA mengorbankan kehidupan sosialnya agar dapat menguasai materi dengan sebenar-benarnya.


Strategi Menyelesaikan Tes CFA
Setiap level CFA memiliki topik dan karakteristik yang berbeda. Pertama, Level I bersifat umum dan meliputi 10 topik yang harus dikuasai. Dikarenakan banyaknya topik yang harus dibahas, maka tes Level I berbentuk pilihan ganda. Jangan menganggap ujian pilihan ganda ini mudah, karena tes Level I CFA memiliki 240 soal pertanyaan yang harus diselesaikan dalam waktu 6 jam, dimana durasinya dipecah menjadi 2 x 3 jam. Hehe, mantap kan.

Strategi untuk menyelesaikan tes Level I CFA adalah menjawab soal sebanyak dan sebenar mungkin, serta tidak menghabiskan waktu terlalu banyak di satu soal saja. Misalnya, dalam ujian sesi 1 dimana harus menuntaskan 120 soal dalam waktu 180 menit, maka 1 soal hanya boleh menghabiskan waktu maksimal 1,5 menit. Jika kamu merasa soal tersebut terlalu sulit untuk dipecahkan dalam alokasi waktu tersebut, langsung skip dan lanjutkan ke soal berikutnya. Setelah mencapai akhir buklet ujian, maka mulai lagi dari awal untuk menyelesaikan soal-soal yang tadi dilewatkan. Strategi disiplin dan tenang sangatlah penting saat ujian, sehingga fokus peserta ujian dapat terjaga dalam waktu yang sangat singkat namun padat tersebut.

Jangan lupa meluangkan waktu untuk mengisi/menghitamkan lembar jawaban di tengah-tengah ujian, sebaiknya tidak menunda hingga menit-menit terakhir. Pengawas ujian CFA terkenal tidak kenal ampun. Jika teman-teman memaksa untuk mengisi lembar jawaban di saat waktu ujian berakhir, maka nama kita akan langsung dicatat dan dianggap tidak lulus ujian pada hari itu, terlepas apapun hasilnya.

Berbeda dengan Level I, tes CFA Level II dan III berbentuk esai dan memiliki topik yang lebih spesifik. Rumornya, Level II memiliki tingkat kesulitan yang paling tinggi karena membutuhkan pemahaman akuntansi yang mumpuni. Level III memiliki bentuk kesulitan yang berbeda dikarenakan ujiannya berbentuk case study, sehingga diperlukan strategi berpikir dan menulis yang tepat untuk dapat melewatinya.


Fiuh, sekian perkenalan dan tips dalam mendapatkan sertifikat profesi CFA, semoga bermanfaat bagi teman-teman yang membaca. Walaupun passing rate hanya mencapai 50%, tapi jangan berkecil hati sebelum mulai berperang. Seperti yang sudah ditulis di atas, takut hanyalah untuk orang-orang yang tidak mempersiapkan diri. Fighting!

Warm regards,
Farah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s