“Pengantin Baru, Tinggal Dimana?”

Wah, ini menjadi pertanyaan yang mutlak ditanyakan oleh orang-orang di sekitar pengantin anyar. Kok kepo amat sih? Hahahah. Menemukan tempat tinggal yang cocok untuk pasangan baru tidaklah mudah. Apalagi, kami masih memiliki target-target yang membuat kami berpikir: apakah kami sudah siap untuk terikat dengan suatu aset yang tidak likuid? Apalagi membayar cicilan selama belasan tahun untuk melunasi kredit kepemilikan rumah atau apartemen? Atas pertimbangan inilah, kami memutuskan untuk menyewa tempat tinggal sampai kami merasa datang saat yang (lebih) tepat untuk menetap lama di satu tempat. Serta menurut aku dan suami, memulai tinggal di hunian sewa adalah pilihan yang pas untuk beradaptasi hidup berdua dahulu. Dari sini, kami bisa menilai apa saja yang sebenarnya kami butuhkan dan kriteria hunian apa yang kami cari.

Ada empat tipe hunian yang bisa dicari oleh pengantin baru: kosan pasutri, apartemen, rumah petak, dan rumah cluster. Masing-masing memiliki pro dan kontra yang harus dipertimbangkan sematang-matangnya, apalagi jika berniat untuk tinggal dalam jangka tahunan. Yuk, kita bahas satu per satu 😉


  1. Kosan Pasutri
    Akhir-akhir ini semakin banyak kosan yang menerima untuk pasangan suami istri a.k.a pasutri. Memang kosan ini cocok menjadi tempat singgah untuk pasangan yang keduanya bekerja penuh waktu dan hanya butuh tempat untuk istirahat. Kelebihan kosan adalah memiliki perabot kamar yang cukup lengkap, seperti tempat tidur dan lemari. Selebihnya, elektronik seperti TV, kipas angin, dan sebagainya menjadi tanggung jawab penyewa kosan untuk bawa sendiri. Nah, seperti wajarnya kos-kosan, terdapat dapur dan ruang bersama untuk seluruh penghuni, sehingga harus bergantian saat memasak dan melakukan aktivitas lainnya.

    Aplikasi seperti Mamikos sangat memudahkan dalam pencarian kosan, apalagi terdapat filter “Boleh Pasutri” sehingga teman-teman bisa langsung memilah tanpa harus repot-repot bertanya kepada pemilik kosan. Harga kosan pasutri di Jakarta berkisar dari 900 ribu hingga 4,5 juta rupiah, tergantung dari fasilitas yang diberikan (AC, Wi-Fi, kamar mandi dalam).
Contoh aplikasi Mamikos

2. Rumah Petak
Lebih private daripada kosan, ada pilihan rumah petak untuk pasangan yang menginginkan dapur sendiri di dalam ‘wilayah’-nya. Namun, karena tidak ada jarak dari satu petak ke petak lainnya, maka rasa berbagi akan tetap terasa utamanya untuk berbagi tempat parkir. Nah, mayoritas rumah petak disewakan dalam bentuk kosongan atau tidak ada perabot sama sekali, sehingga teman-teman harus bersiap menyediakan perabotan serta elektronik sebelum menempatinya.

Namun, mencari sewa rumah jauh lebih rumit karena belum ada aplikasi terintegrasi seperti Mamikos. Jadi, teman-teman harus menghubungi pemilik rumah satu per satu untuk menanyakan ketersediaannya. Rumah petak di Jakarta memiliki kisaran harga 20-30 juta per tahun. Contoh rumah petak di bawah ini berada di area Rempoa, dengan luas 65 m2 terdiri dari 1 kamar tidur dan listrik daya 1.300 watt.


3. Apartemen
Ingin yang lebih private daripada kosan dan rumah petak, serta nggak pengen repot mikir keamanan, kebersihan serta perintilan lainnya? Ada pilihan sewa apartemen! Bisa dibilang, ini adalah pilihan paling nyaman dari keempat jenis hunian sewaan yang dibahas disini. Melalui aplikasi Travelio, teman-teman bisa memilih sekian banyak hunian full furnished lengkap dengan elektroniknya di berbagai apartemen. Hanya bawa baju saja dan siap disewa bulanan maupun tahunan. Nyaman banget kan?

Tentunya, hunian apartemen memiliki kekurangan dibanding hunian rumah. Di antaranya: iuran kebersihan dan keamanan cenderung lebih mahal daripada landed house, akses ruang bersama yang terbatas, serta kurangnya interaksi antara penghuni akan membuat hidupmu sedikit bosan. Walaupun, ada juga wadah komunitas penghuni apartemen yang memungkinkan teman-teman untuk menjalin hubungan dengan para penghuni lainnya, sehingga sepi pun bisa dihindari. Harga sewa bulanan apartemen di Travelio dibanderol dengan harga 2,5 – 8 juta rupiah, tergantung dari tipe unit, fasilitas, serta kawasan apartemen. Semakin luas area unit dan lengkap fasilitasnya, maka harga sewa akan cenderung lebih mahal.

Contoh unit apartemen di Travelio

4. Rumah Cluster
Nah, tipe hunian sewa yang satu ini paling lengkap dibanding tiga hunian sebelumnya. Landed house yang paling sederhana biasanya memiliki luas bangunan 60 m2, memiliki dua kamar tidur, memiliki lahan parkir yang cukup untuk setiap rumah, serta berkelompok di dalam cluster. Dengan hunian sewa yang berbentuk landed house seperti ini, teman-teman memiliki keleluasaan untuk beraktivitas dan berkreasi. Misal, bercocok tanam di taman depan/ belakang rumah hingga mendekor rumah sesuai keinginan. Sayangnya, untuk mencari landed house ini sama rumitnya seperti mencari rumah petak, karena tidak ada aplikasi terintegrasi dan teman-teman harus kontak pemiliknya satu per satu.

Untuk landed house 1 lantai, harga sewanya berkisar antara 25 – 35 juta setahun. Sedangkan landed house dengan 2 lantai, harga sewa berkisar antara 40 – 60 juta setahun. Harga ini bisa naik sebanyak 2x lipat jika terdapat perabot di dalamnya.


Sekian pembahasan singkat tentang tipe-tipe hunian sewa. Berikut tips-tips untuk menemani teman–teman yang ingin melanjutkan pencariannya.

1. Cari dengan keywords yang spesifik
Mulailah dengan area yang kamu inginkan. Misal, teman-teman menginginkan hunian di daerah Pesanggrahan, maka bisa coba cari dengan keywords “sewa rumah di Pesanggrahan” atau “sewa apartemen di Pesanggrahan”. Menurutku, ada empat website yang cukup mumpuni yakni dari Lamudi, Rumah123, Sewa-Rumah, hingga Rumah.com yang ciamik dan informatif.

2. Perhatikan jangka waktu sewaan
Rata-rata hunian sewaan mewajibkan minimal sewa satu tahun. Namun, hunian seperti kosan dan apartemen melalui aplikasi Mamikos dan Travelio memungkinkan sewa bulanan yang dapat diperpanjang sewaktu-waktu.

3. Teliti sebelum menyewa
Apakah wilayah tersebut rawan banjir? Atau sering ada pencurian dan keamanannya tidak terjamin? Berapa biaya kebersihan dan parkir per bulan? Teman-teman jangan malu untuk menanyakan hal ini kepada pemilik hunian, agar tidak terkejut saat nanti menghuni sepanjang tahun. Jangan lupa untuk mengecek ketersediaan air (sumber air tanah atau PAM?) serta daya listrik (pasca bayar atau token?).

4. Cek kualitas seluruh fasilitas di dalam hunian
Seringkali hunian sewa sudah lama dibangun dan dipakai bertahun-tahun oleh penyewa yang berbeda-beda. Acapkali, pemilik hanya mengecat dan melakukan tambal sulam agar rumahnya terlihat baru. Cek apakah ada kebocoran genteng atau plafon, mampetnya saluran pembuangan, pun tipisnya lapisan tahan air pada kamar mandi. Khusus untuk hunian yang menyediakan peralatan elektronik di dalam apartemen seperti Travelio, penyewa wajib komplain dalam kurun waktu 1×24 jam untuk mengklaim malfungsi maupun kerusakan. Jika melewati waktu tersebut, maka seluruh biaya perbaikan akan dibebankan kepada penyewa.

5. Buat kontrak sewa
Perjanjian di atas kertas sangatlah penting bagi kedua belah pihak. Jadi, susunlah hak dan kewajiban yang dirasa perlu ke depannya untuk menghindari prahara yang berkepanjangan (jika ada).


Sekian pembahasan dan tips mencari hunian sewa. Semoga membantu dan tetap semangat mencari hunian yang nyaman! 🙂

Salam hangat,
Farah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s