Kupas Tuntas CFP, RFP, QWP, dan AWP

Gara-gara pandemi dan aku work from home sejak Maret 2020, aku jadi bisa eksplorasi berbagai hal termasuk hobi baru. Jika tahun 2020 aku punya hobi bikin roti, maka di awal tahun 2021 aku menambah hobi baru yaitu membuat sabun. Eits, tapi aku nggak akan bahas tentang hobi-hobi ini, karena sekarang aku ingin menambah professional skill yang menunjang karir ke depannya. Saat ini, aku sudah lolos CFA Level 1, namun hingga sekarang masih belum ada niat untuk melanjutkan hingga tahap akhir. Jadi, aku mencari alternatif lain yang cocok untukku dan bisa dieksplorasi dengan lebih semangat ke depannya.

Beberapa sertifikasi keuangan yang kutemui di Indonesia adalah Certified Financial Planner (CFP) dan Registered Financial Planner (RFP). Nah, sepanjang pencarian aku juga menemukan Qualified Wealth Planner (QWP) dan Associate Wealth Planner (AWP) yang juga dihubung-hubungkan dengan CFP. Apa sih hubungan dan perbedaan masing-masing sertifikasi ini? Cus kita bahas.

  1. Certified Financial Planner (CFP)
    CFP merupakan sertifikasi yang terstandardisasi global dalam perencanaan keuangan. Para profesional dengan gelar CFP menempuh pendidikan dan pelatihan, serta mematuhi kode etik agar bisa membantu klien mempersiapkan rencana keuangan dengan sebaik-baiknya. Untuk mendapatkan CFP, ada empat langkah yang harus dilewati terlebih dahulu: Education, Exam, Experience, dan Ethics.

    Dalam persyaratan Education, FPSB Indonesia sebagai penyelenggara eksklusif program sertifikasi CFP dan RFP di Indonesia menetapkan tiga syarat, yakni a) menyelesaikan pendidikan/kursus CFP di lembaga yang bekerjasama dengan FPSB Indonesia, b) memiliki minimal pendidikan S1 dari universitas atau lembaga terakreditasi; serta c) memiliki pengalaman kerja minimal 3 tahun (atau SMU dengan pengalaman kerja selama minimal 6 tahun di industri terkait jasa keuangan).

    Namun, bagian pendidikan ini bisa di-skip jika teman-teman sudah memiliki sertifikasi profesional seperti CFA, CPA, CHFC, CLU, Wakil Manajer Investasi, FLMI, AAJI atau dengan gelar akademis minimum S2 di bidang keuangan dari universitas yang diakui oleh Indonesia. Setelah menyelesaikan syarat Education, maka berlanjut ke tahap Exam, Experience, dan Ethics dimana calon CFP menempuh ujian serta proses evaluasi pengalaman dan etika.

    Ada 4 modul yang akan diujikan pada sertifikasi CFP:
    a. Modul 1 : Fundamental of Financial Planning (Dasar Perencanaan Keuangan)
    b. Modul 2 : Investment Planning (Perencanaan Investasi)
    c. Modul 3 : Risk Management and Insurance Planning (Perencanaan Asuransi dan Manajemen Risiko)
    d. Modul 4 : Retirement, Income Tax and Estate Planning (Perencanaan Pensiun, Pajak Penghasilan, dan Warisan)

    FYI, karena ada perbedaan hukum teritori serta praktek perpajakan, maka gelar CFP yang didapatkan di Indonesia tidak bisa serta merta dipakai untuk di Amerika Serikat dan negara lain. Tapi jangan khawatir, karena di CFP® Board Amerika Serikat ada acceleration path dimana pemegang gelar CFP Non-AS bisa skip Education lalu melanjutkan ke tahap Exam dan sebagainya untuk mendapatkan CFP®. Untuk negara selain AS, contoh-contoh kasus CFP cross-border bisa dibaca disini.

  2. Registered Financial Planner (RFP)
    RFP merupakan CFP yang ‘disederhanakan’ dimana yang diujikan hanyalah dua modul. RFP Investment berisikan modul 1 (Dasar Perencanaan Keuangan) dan 2 (Perencanaan Investasi); sedangkan RFP Insurance mengenai modul 1 dan 3 (Perencanaan Asuransi dan Manajemen Resiko). Syarat untuk dapat mengikuti ujian RFP adalah a) menyelesaikan pendidikan/kursus RFP, b) memiliki minimal pendidikan S1 dari universitas atau lembaga terakreditasi; serta c) memiliki pengalaman kerja minimal 1 tahun (atau SMU dengan pengalaman kerja selama minimal 6 tahun di industri terkait jasa keuangan).

    Nah, jika teman-teman berencana untuk ‘mencicil’ sertifikasi CFP, mungkin mengambil RFP adalah jawaban yang tepat. Nantinya, ujian tahap 2 menuju CFP hanya mengujikan modul yang belum diambil saat RFP. Untuk kursusnya pun ada kelas ‘RFP to CFP’ bagi teman-teman yang ingin melanjutkan sertifikasi RFP ke jenjang CFP.

  3. Qualified Wealth Planner (QWP)
    Program QWP adalah workshop/pelatihan dan sertifikasi yang mengedepankan praktek. Para peserta akan mempelajari proses membangun perencanaan keuangan dan mampu menggunakan software QWP. Program QWP diinisiasi oleh FPSB Indonesia, tapi sertifikat gelar profesi QWP ini dikeluarkan oleh QWP Academy. Bagi para pemegang sertifikat CFP dan RFP, menyelesaikan sertifikasi QWP bisa mendapatkan 20 CPD points.

    Apa sih CPD points? Sederhananya seperti ini, bagi para pemegang sertifikat CFP dan RFP perlu mengumpulkan CPD points agar dapat memperpanjang sertifikasi beberapa tahun kemudian. Nah, QWP adalah salah satu cara untuk mendapatkan CPD points tersebut. Pelatihan QWP menghabiskan waktu 2 hari dan terdapat studi kasus yang komprehensif. QWP juga menitikberatkan pada praktek menggunakan software perencanaan keuangan yang tidak didapatkan pada CFP dan RFP.

  4. Associate Wealth Planner (AWP)
    Terakhir ada Associate Wealth Planner dari AWP Academy, yang didukung oleh QWP Academy dan FPSB Indonesia. Bagi para pemegang sertifikat CFP dan RFP, menyelesaikan sertifikasi AWP bisa mendapatkan 10 CPD points. Pelatihannya pun lebih sederhana dan singkat yakni hanya 1 hari, meliputi prinsip dasar perencana keuangan pribadi dan keluarga, konsep Time Value of Money, prinsip budget planning (cash flow), serta perencanaan anggaran, asuransi, pendidikan anak, pembelian rumah dan perencanaan pensiun dalam bentuk digital.

Sekian paparan singkat mengenai beberapa sertifikasi keuangan di Indonesia, khususnya CFP, RFP, QWP, dan AWP. Pastinya teman-teman yang mencari informasi tentang sertifikasi ini memang sudah berniat untuk mengambil salah satunya, namun bingung manakah yang sebaiknya diambil terlebih dahulu?

Secara umum, memiliki sertifikasi CFP menjadi goal bagi yang serius di bidang keuangan. In my opinion, langsung menempuh jalur untuk mengambil CFP adalah langkah yang paling ideal. Tetapi jika teman-teman ingin mencicil terlebih dahulu, maka yang paling tepat adalah memulai dari sertifikasi RFP. Nantinya jika memang diperlukan, barulah mengambil sertifikasi QWP dan/atau AWP untuk refresh ilmu, mendalami praktek, serta mendapatkan bonus CPD points tersebut.

Pada tabel di bawah ini, aku coba rangkum poin-poin penting yang bisa dijadikan bahan pertimbangan selanjutnya.

CFPRFP
Biaya KursusRp 14 juta (8 hari)Rp 5 juta (4 hari)
Biaya UjianRp 2,7 jutaRp 1 juta
Modul a. Modul 1 : Fundamental of Financial Planning;
b. Modul 2 : Investment Planning;
c. Modul 3 : Risk Management and Insurance Planning;
d. Modul 4 : Retirement, Income Tax and Estate Planning.
a. Modul 1 : Fundamental of Financial Planning; dan
b. Modul 2 : Investment Planning; atau
c. Modul 3 : Risk Management and Insurance Planning.
Biaya SertifikatRp 1,4 juta/ tahunRp 600 ribu/ tahun
Masa Berlaku Sertifikasi2 tahun2 tahun
Syarat Perpanjangan Sertifikasi40 CPD points20 CPD points

Akhir kata, terima kasih sudah membaca, semoga informasi ini membantu teman-teman sekalian. Mohon maaf jika terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penulisan. Pastinya kolom komentar terbuka untuk diskusi lebih lanjut 🙂

Salam hangat,
Farah

Sumber:
1. FPSB Indonesia
2. Indonesia Financial Advisor Community
3. QWP Academy
4. AWP Academy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s